MenuntutIlmu Sampai Liang Lahat. “Carilah ilmu sejak bayi hingga ke liang kubur.”. 4. Mencari Ilmu Untuk Dunia Dan Akhirat. Dibawah ini juga dianggap sebagai hadits lemah atau tidak ada asalnya dan ada yang mengatakan bahwa ini ucapan Imam asy-Syafi’i bukan ucapan Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam. Sebelummatahari terbit hari Rabu itu tanggal empat Zulhijah tahun ke-23 Hijri Umar keluar dari rumahnya hendak mengimami salat subuh. di mana yang menurut kita tempat atau negara yang menurut kita islam menganjurkan kita untuk menuntut ilmu sampai ke liang lahat,bukan kita disuruh mencari ilmi di dalam tanah,namun carilah Karenaitu, tidak seharusnya ada waktu yang kosong dari sentuhan pendidikan.Tuntutlah Ilmu Dari Buaian Sampai Ke Liang Lahat Ir. Soekarno, New7Wonders of Nature, Al-Qur’an & Hadist Today, Di samping itu, Rasulullah SAW bersabda uthlubul’ilma minalmahdi ilal lakhdi yang artinya “tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. اطلبواالعلم ولو بالصين ، فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم. “ Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina, sesungguhnya menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.”. Diriwayatkan oleh: Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, No. 1612. Dengan sanad: telah mengabarkan kepadaku Abu Abdullah Al Hafizh Ilmuadalah cahaya yang akan menerangi jalan hidupmu. carilah ilmu sampai ke liang lahat (sampai akhir hayat/tua) Lihat profil lengkapku. Lokasiku. View Larger Map. Visitor. counter Pencarian super cepat. Custom Search Member. Mencariilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimat– Carilah ilmu dari ayunan sampai liang lahat – Carilah ilmu, walau sampai ke negeri China (al-Hadits) Ketiga hadits tersebut mengisyaratkan bahwa mempelajari ilmu pengetahuan hukumnya wajib, tidak ada batasan waktu, jarak, dan usia. Manusia sebagai khalifah Allah memiliki kekuatan akal Ketikamasih terbengong-bengong, aku dikagetkan oleh suara pak RT yang menyuruhku dan teman-teman membantu orang-orang tua untuk menggali liang lahat. Dan kami semua menurutinya. Akhirnya kami semua berangkat menuju ke pemakaman umum. Di sinilah keanehan mulai terjadi. Tanah yang digali sangat susah sekali. Carilahilmu dari buaian hingga liang lahat, carilah ilmu sampai ke negeri Cina. Bagi seorang muslim, mencari ilmu itu hukumnya wajib. Bahkan penyusun kitab Hadis terkenal Jami’ as-Sahih sampai melakukan perjalanan 16 tahun lamanya didalam mencari dan mengumpulkan hadis-hadis nabi. Artinya: ”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi) 7. Hadits “Menuntut Ilmu” أُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى الَّلحْدِ Artinya : ”Carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat”. (Al Hadits) 8. IstilahIlmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sering diterjemahkan menjadi science and technology. Carilah ilmu walaupun di negeri China, mencari ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan sejak dari ayunan sampai ke liang lahat. Bagi orang berilmu, yang melandaskan keilmuannya dengan keimanan , pengembangan, dan pemanfaatan IPTEK dan Carilahilmu dikala kamu di lahirkan sampai ke liang lahat (dikuburkan) Maka carilah ilmu sebanyak - banyak'a walaupun sampai ke negri cina ,manfaatkanlah ilmu mu dengan sebaik - baiknya. ilmu duniawi mu dan ilmu akhiratmu carilah ilmu kedua itu apabila kamu ingin bahagia dunia akhirat .janganlah kamu hanya mencari ilmu dunia saja maka kamu Dalamkaitannya dengan waktu belajar, Nabi saw mengajarkan,’’ Carilah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat’’. Seruan ini mengandung arti bahwa kewajiban mencari limu itu berlangsung seumur hidup, sejak lahir sampai maut menjemput. Dengan demikian sepanjang hidup, selama itu pula manusia dalam proses belajar. Carilahilmu dari kamu lahir sampai ke liang lahat, karena ilmu tidak bisa dibeli, jangan sia-sia kan waktumu. karena waktu bagaikan pedang, apabila kamu gagal memanfaatkan waktu yang ada maka kamu akan terpotong oleh nya. Dan di sini kami akan mengajarkan tentang adab terlebih dahulu. Karena ilmu tanpa adab bagaikan kepala tanpa tubuh Carilahilmu meskipun di negeri Cina, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. SERINGKALI kita mendengar istilah ‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina’, saking populernya bahkan ada beberapa pihak yang mengatakannya itu adalah hadits. Benarkah? Hadits ini oleh para ulama Hadits dikategorikan sebagai Hadits masyhur yang non Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat”(HR. Muslim) Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga (HR Muslim) Hadits di atas memberi gambaran bahwa dengan ilmulah surga itu akan didapat. Karena dengan ilmu orang dapat beribadah dengan benar kepada Allah Swt dan dengan ilmu UbBZo. Menjadi lumrah untuk manusia menuntut ilmu. Sedari kecil, kita akan dipupuk budaya membaca dan ditanam perasaan gemar belajar untuk mendapatkan ilmu. Kita lihat dalam sejarah, ramai umat Islam terdahulu yang telah berjaya melakar nama dalam bidang-bidang yang diceburi. Ibnu Firnas merupakan manusia pertama yang berjaya mencakar langit dengan penciptaan kapal terbangnya. Ibn al-Nafis pula merupakan antara tokoh perubatan yang sangat ulung yang telah menyumbang terhadap penemuan sistem peredaran darah. Al-Khawarizmi pula merupakan seorang tokoh dalam bidang matematik, astronomi dan geografi. Kecintaan mereka terhadap ilmu sehingga mampu menjadikan mereka sebagai tokoh yang berjaya membuka mata dunia terhadap bidang-bidang yang diceburi. Kisah-kisah umat terdahulu inilah yang memberikan semangat kepada diri kita hari ini untuk lebih bersemangat dalam menuntut ilmu. Dalam hal ini juga, terdapat beberapa hadis dan kata mutiara yang disandarkan untuk membangkitkan lagi semangat manusia untuk menuntut ilmu. Namun, dalam masa yang sama, kita perlu berhati-hati dalam menyandarkan dalil yang didengar. Sebagai contoh, entri kali ini akan membawa sebuah kata-kata yang cukup terkenal dan sering digunakan, namun ia disebut sebagai salah sebuah kata-kata Rasulullah SAW. اطْلُبُوا العِلمَ مِنَ المَهدِ إِلى اللّحْدِ Maksud “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad.” Menurut perbahasan ulama, ia bukanlah sebuah hadis. Tidak boleh beramal dengan menyandarkan ia kepada hadis. Menurut Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, ucapan ini adalah kata-kata hikmah yang telah direka oleh manusia sendiri. Ia adalah kata-kata ulama dan digelar sebagai kata mutiara. Boleh beramal dengan kata-kata hikmah ini dan menjadikan ia sebagai pembakar semangat anda dalam usaha menuntut ilmu, namun tidak boleh mengatakan bahawa ia adalah kata-kata daripada Baginda SAW. Kongsikan Artikel Ini Nabi Muhammad berpesan, “sampaikanlah dariku walau satu ayat” dan “setiap kebaikan adalah sedekah.” Apabila anda kongsikan artikel ini, ia juga adalah sebahagian dari dakwah dan sedekah. Insyallah lebih ramai yang akan mendapat manafaat. Fizah Lee Merupakan seorang graduan Universiti Islam Antarabangsa Malaysia dalam bidang Bahasa Melayu untuk Komunikasi Antarabangsa. Seorang yang suka membaca bahan bacaan dalam bidang sejarah dan motivasi BERIKUT penjelasan tentang 2 status hadits tersebut1. Tuntutlah Ilmu dari Buaian Sampai Liang Lahad اطلبوا العلم من المهد الى اللحدSyaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah rahimahullah ulama hadits kontemporer, lahir tahun 1336 H dan wafat tahun 1417 H di kitab beliau Qimah az-Zaman inda al-Ulama hal 30 terbitan Maktab al-Mathbu’at al-Islamiyah, cetakan ke-10 menyatakanهذا الكلام طلب العلم من المهد الى اللحد ويحكى أيضا بصيغة اطلبوا العلم من المهد الى اللحد ليس بحديث نبوي ، وإنما هو من كلام الناس ، فلا تجوز إضافته إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم كما يتناقله بعضهم ، إذ لا ينسب إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا ما قاله أو فعله أو “Perkataan ini, yaitu menuntut ilmu dari buaian sampai ke liang lahad’, dan disampaikan juga dengan ungkapan tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahad’, bukanlah hadits Nabi. Ia hanyalah perkataan manusia biasa, dan tidak boleh menyandarkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang. Tidak ada yang boleh dinisbahkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kecuali perkataan, perbuatan dan persetujuan beliau.”Diceritakan juga bahwa Syaikh Ibn Baz rahimahullah dalam sebuah kajian beliau pernah menyatakan status hadits ini, yaitu ليس له أصل, tidak ada asalnya. saya menemukan cerita ini di dan keduanya diakses pada tanggal 30 Januari 2012Hal yang serupa juga dinyatakan oleh Markaz Fatwa situs Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah rahimahullah menyatakan bahwa ungkapan اطلبوا العلم من المهد الى اللحد ini maknanya benar, namun yang tidak boleh adalah menisbahkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wa Menuntut Ilmu itu Wajib bagi Setiap Muslim dan Muslimah طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمةHadits طلب العلم فريضة على كل مسلم, tanpa tambahan ومسلمة diriwayatkan melalui banyak jalur dan terdapat di banyak kitab, diantaranya dikeluarkan oleh Ibn Majah dalam Sunan-nya1/81, al-Bazzar dalam Musnad-nya1/164 13/240 14/45, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam ash-Shaghir 1/36 1/58, juga dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath, al-Mu’jam al-Kabir dan Musnad asy-Syamiyin, dikeluarkan juga oleh al-Baihaqi dalam al-Madkhal ila as-Sunan al-Kubra hadits no. 325, 326 dan 329.Ulama berbeda pendapat tentang status hadits ini. Abu Abdirrahman al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahih at-Targhib wa at-Tarhib 1/17 dan Shahih wa Dha’if Sunan Ibn Majah 1/296 menyatakan hadits ini shahih. Dalam kitab Shahih wa Dha’if Sunan Ibn Majah 1/296, al-Albani mengutip hadits dari Ibn Majahحدثنا هشام بن عمار حدثنا حفص بن سليمان حدثنا كثير بن شنظير عن محمد ابن سيرين عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم طلب العلم فريضة على كل مسلم وواضع العلم عند غير أهله كمقلد الخنازير الجوهر واللؤلؤ beliau berkomentar “shahih, tanpa tambahan وواضع العلم dan seterusnya, tambahan tersebut statusnya dha’if jiddan.”Imam Muhammad ibn Abdirrahman as-Sakhawi rahimahullah dalam kitab beliau al-Maqasid al-Hasanah 1/121 menyatakanحديث اطلبوا العلم ولو بالصين، فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم، البيهقي في الشعب، والخطيب في الرحلة وغيرها، وابن عبد البر في جامع العلم، والديلمي، كلهم من حديث أبي عاتكة طريف بن سلمان، وابن عبد البر وحده من حديث عبيد بن محمد عن ابن عيينة عن الزهري كلاهما عن أنس مرفوعا به، وهو ضعيف من الوجهين، بل قال ابن حبان إنه باطل لا أصل له، وذكره ابن الجوزي في الموضوعات، وستأتي الجملة الثانية في الطاء معزوة لابن ماجه وغيره مع بيان “Hadits tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim’ disebutkan oleh al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab, al-Khathib dalam ar-Rihlah dan selainnya, Ibn Abdil Barr di Jami al-Ilm, dan ad-Dailami. Seluruhnya meriwayatkan dari Abi Atikah Tharib ibn Salman, dan Ibn Abdil Barr sendiri meriwayatkan dari Ubaid ibn Muhammad dari Ibn Uyainah dan az-Zuhri. Keduanya dari Anas secara marfu’. Dan ia dha’if dari dua sisi. Bahkan Ibn Hibban berkata sesungguhnya ia batil, tidak ada asalnya’. Dan ibn al-Jauzi juga menyebutkannya dalam al-Maudhu’at. Dan nanti akan ada lagi di pembahasan huruf tha’, dinisbahkan kepada Ibn Majah dan selainnya beserta penjelasan hukumnya.”Dalam kitab yang sama 1/440, as-Sakhawi menyatakanحديث طلب العلم فريضة على كل مسلم، ابن ماجه في سننه، وابن عبد البر في العلم له من حديث حفص بن سليمان عن كثير بن شنظير، عن محمد بن سيرين عن أنس به مرفوعا بزيادة وواضع العلم عند غير أهله كمقلد الخنازير الجوهر واللؤلؤ والذهب، وحفص ضعيف جدا، بل اتهمه بعضهم بالكذب “Hadits menuntut ilmu wajib atas setiap muslim’ disebutkan oleh Ibn Majah di Sunan-nya, Ibn Abdil Barr dalam al-Ilm dari hadits Hafsh ibn Sulaiman, dari Katsir ibn Syinzir, dari Muhammad ibn Sirin, dari Anas secara marfu’, dengan tambahan وواضع العلم عند غير أهله كمقلد الخنازير الجوهر واللؤلؤ والذهب. Dan Hafsh dha’if jiddan, bahkan dituduh berdusta dan memalsukan hadits.”As-Sakhawi 1/140 menjelaskan cukup panjang tentang hadits ini, bahwa ia juga diriwayatkan dari beberapa jalur lain, namun sebagian ulama mengatakan bahwa semua riwayat tersebut mengandung cacat, tidak bisa dijadikan hujjah. Hal ini misalnya disampaikan oleh Ibn Abdil Barr dan al-Bazzar sebagaimana dikutip oleh untuk tambahan kata ومسلمة, as-Sakhawi mengatakan bahwa tambahan tersebut tidak pernah disebutkan dalam jalur-jalur periwayatan yang disimpulkan, kata ومسلمة hanya tambahan dalam hadits yang tidak ada asalnya. Sedangkan hadits طلب العلم فريضة على كل مسلم tanpa tambahan ومسلمة diperselisihkan ulama keshahihannya. []Wallahu a’lam bish shawwab. Dalam perspektif Islam, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul dari makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Menurut al-Ghazali menuntut ilmu merupakan kewajiban manusia, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, orang dewasa dan anak-anak menurut cara-cara yang sesuai dengan keadaan, bakat dan kemampuan. Bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah tanpa membedakan jenis kelamin dasarnya terdapat di dalam al-Qur’an maupun di dalam pertama yang diturunkan Allah swt dalam menuntut ilmu sebagaimana firman Allah dalam Surah al-Alaq ayat 1-5, yang artiya “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang ia tidak tahu”.Rasulullah dalam salah satu haditsnya,"Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan menuju surga”. HR MuslimSelanjutnya kewajiban menuntut ilmu kita mengenal prinsip bahwa menuntut ilmu itu tidak mengenal batas dimensi ruang adalah Sabda Nabi Muhammad Saw"Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina” Ibnu BarriDan prinsip bahwa belajar itu tidak mengenal batas dimensi waktu atau seumur hidup"Carilah ilmu dari buaian ibu lahir sampai ke liang lahat" wafat AhmadAkan tetapi bagaimana kita mendapatkan keberkahan dari ilmu itu sendiri, dalam menuntut ilmu terdapat sesuatu yang amat penting yang perlu diketengahkan adalah adab atau etika yang mewujud menjadi karakter dalam menuntut adab mencari ilmu itu penting untuk diketahui dan diamalkan tiap siswa maupun orang yang akan belajar kepada guru, alasannya adalah karena adab lebih utama sebelum mempelajari sesuatu. Tentunya bertolak belakang ketika fenomena saat ini adalah para peserta didik yang kurang memilki etika atau moral dalam menuntut dari beberapa literatur, berikut etika dalam yang harus dilakukan ketika belajar yaitu agar siswa senantiasa ikhlas, memiliki niat dan tekad untuk belajar, diawali dengan doa, memiliki ketekunan, belajar sungguh-sungguh, bersemangat, banyak beribadah, memelihara sopan santun, memiliki kesabarana, tidak cepat menyerah atau putus asa, memiliki isfat lapang dada, memiliki sifat tawadhu, nasehat menasehati sesama penuntut ilmu dan mau mengamalkan ilmunya..Ilustrasi Etika Menuntut Ilmu Sumber Unsplash comSetiap penuntut ilmu merindukan untuk menjadi penuntut ilmu yang baik, walaupun tidak selalu diikuti oleh kesediaan dalam menempuh jalan kesuksesan. Sebagaimana setiap penuntut ilmu tidak menginginkan dirinya menjadi atau tergolong sebagai penuntut ilmu yang ilmu yang didapat tidak hanya memberikan kebaikan di dunia, namun juga mengalir sampai ke akhirat.“Teruslah berbuat baik, karena kebaikan itu menular”** Asep Totoh-Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666. أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ Rasulullah SAW bersabda أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat” Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education” atau pendidikan seumur hidup. Kehidupan didunia ini rupanya tidak sepi dari kegiatan belajar, sejak mulai lahir sampai hidup ini berakhir. Benar hadist Rasulullah Muhammad “Udlubul ilma mahdi illal lahdi”, menuntut ilmu sejak buaian sampai liang lahad. Menurut teman - teman apa maksudnya? karena hadist yang benar setahu saya kalimatnya adalah "tuntutlah Ilmu dari buaian sampai ke liang lahat" atau yg demikian, Tolong “tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”. Namun hadist ini tidak sempat menggugah perhatian umat islam untuk memprakarsainya menjadi word program hingga pada Begitu pula himmah untuk belajar, kewajiban belajar ada pada semua umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan, mulai lahir hingga nafas berakhir. “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat” HR. Bukhori Dalam banyak kesempatan dan berbagai tempat, para ulama telah panjang lebar membicarakan tentang keabsahan hadits tersebut. Menurut banyak ulama, bahwa hadits tentang hal tersebut, -meski tidak diriwayatkan baik oleh Imam Al-Bukhary ataupun Imam Muslim- Meski sudah berusia 71 tahun, Mbah Im tetap rajin menimba ilmu. Ia terus berupaya mengamalkan sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW, "Utlubul 'ilmi minal mahdi ilal lahdi Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai [menjelang] liang lahat." .. Hadist. Dari Abi Nadhrah berkata "Kami sedang berada bersama Jabir bin Abdullah, rodhiyallahu 'anhuma, dia berkata. Rasuulullah Saw Bersabda "Hampir saja tidak boleh dibawa masuk ke negeri Iraq diboikot makanan sepotong roti-pun Menuntut Ilmu Wajib bagi Semua Mukmin dan Mukminah Tuntutlah Ilmu dari Buaian hingga ke Liang Lahat Ilmu itu bagaikan bintang-bintang yang gemerlapan Dalam sebuah hadis disebutkan, tuntutlah ilmu dari buaian sampai.. a. Usia dewasa c. Liang lahat b. Mendapatkan pekerjaan d. Sampai tua 25. Jika menginginkan kehidupan dunia dan akhirat, maka harus dengan .. a. Beribadah c. Ilmu Menuntut ilmu memang bukan kewajiban yang ditentukan waktunya seperti salat dan puasa, tapi justru merupakan kewajiban sepanjang hayat. Hadis Nabi Saw. menyebutkan, “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. Wajarlah jika Rasulullah berkata, “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat“. Dengan terbiasa mengambil pelajaran dari seluruh kegiatan, kita bisa mendapatkan banyak keterampilan. Hal inilah yang bisa membuat kita lebih unggul modal keterampilan hidup tersebut kita akan siap menghadapi perubahan yang begitu cepat dalam dunia ini. Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan Al-Insyirah6. Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat Al Hadits tajuk diatas, SirN telah memulakan mukadimah dengan kewajipan belajar kepada ibubapa bersesuai dengan hadis Nabi "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat" Fadhilat Ilmu. 1 Tiada sesuatu ibadah kepada Allah yang lebih utama drp memahami ilmu Di antara seorang 'alim dan 'abid spt kelebihanku dari orang yang paling rendah dari Long Integrated Education, Rasulullah SAW pada abad ketujuh telah menegaskan Uthlub al’ilma min al-mahdi ila al-lahdi tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat.Di dalam Hadits mengatkan bahwa " TUNTUTLAH ILMU DARI BUAIAN SAMPAI LIANG LAHAT ". Atau yang dalam keseharian seprti, mencuci, mandi, bermain, dll. Semuanya ditunda dengan beragam alasan. Padahal sesungguhnya penundaan tanpa alasan artinya ”Tuntutlah ilmu oleh kalian mulai sejak di buaian hingga liang lahat”. Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari dari dahulu sudah dapat dilihat bahwa pada “Tuntutlah Ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat,”. Demikian sabda Rasulullah. Karena itu, tidak seharusnya ada waktu yang kosong dari sentuhan Ilmu Dari Buaian Sampai Ke Liang Lahat Ir. Soekarno, New7Wonders of Nature, Al-Qur'an & Hadist Today, Di samping itu, Rasulullah SAW bersabda uthlubul'ilma minalmahdi ilal lakhdi yang artinya “tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. Hadits tersebut menekankan betapa pentingnya seseorang belajar sedini mungkin. Artinya, pendidikan pada anak usia dini akan sangat membekas hingga anak dewasa. Pendidikan pada usia ini adalah peletak dasar bagi pendidikan anak selanjutnya. Keberhasilan pendidikan usia dini ini sangat berperan besar bagi keberhasilan anak di tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur al – hadist 4 aqidah 23 download kitab ulama 2 dzikir dan do Misalnya hadist berikut ini; “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim; carilah ilmu walaupun di negeri cina; carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat; para ulama itu pewaris Nabi; pada hari kiamat ditimbanglah tinta ulama

carilah ilmu sampai ke liang lahat